Sabtu, 17 Maret 2012

Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas.






MENGETAHUI GEJALA PENYAKIT DEMAM BERDARAH
(Oleh: Dyan Ratna Sari)


Penyakit demam berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit demam berdarah ini dapat terkena oleh siapa saja. Gejala penyakit demam berdarah biasanya ditandai dengan demam tinggi, perut terasa mual, kepala pusing, munculnya bintik-bintik merah di permukaan kulit dan yang parah adalah terjadinya mimisan. Penyakit demam berdarah bisa diketahui dengan cara pemeriksaan kadar trombosit dalam darah. Keterlambatan penanganan penyakit demam berdarah dapat mengakibatkan kematian.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita dapat memberantas penyakit demam berdarah. Pemberantasan penyakit demam berdarah dapat dimulai dengan membersihkan bak, kolam dan genangan air yang bisa menjadi tempat perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu pemberantasan penyakit demam berdarah bisa dilakukan dengan cara pengasapan (fogging), dan memberikan bubuk abate pada tempat tergenangnya air.Pemberantasan penyakit demam berdarah dapat mengurangi angka kematian akibat demam berdarah.




Jumat, 16 Maret 2012

Paragraf Induktif

Paragraf Induktif adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan kemudian diakhiri dengan kalimat topik. 


Manfaat Sayuran dan Buah Bagi Tubuh
(Oleh: Dyan Ratna Sari)

Selama ini kita telah memakan berbagai macam buah dan sayur. Buah dan sayur sangat penting bagi gizi dan kesehatan tubuh kita. Buah mempunyai berbagai macam bentuk, warna, rasa dan aroma. Namun terkadang kita malas untuk memakan buah-buahan padahal di dalam buah terdapat banyak vitamin bagi tubuh. Salah satu buah yang banyak manfaatnya adalah buah jambu biji merah. Buah jambu biji merah memiliki banyak vitamin C, selain itu buah jambu biji merah mempunyai zat antioxidan dan antikanker. Buah jambu biji merah ini berguna untuk menurunkan kadar kolesterol darah, mengobati infeksi, mengobati sariawan, mengobati infeksi, memperlancar peredaran darah, dan melancarkan saluran pencernaan. Buah jambu biji merah ini selain enak untuk dimakan ternyata juga memiliki banyak vitamin dan manfaat untuk tubuh kita.
Begitu pula dengan sayur yang setiap hari kita makan, walaupun rasa sayuran ada yang pahit tetapi sayuran memiliki banyak vitamin dan mineral yang bermanfaat untuk tubuh kita. Kandungan zat besi pada sayuran bayam berguna untuk pembentukan sel darah merah didalam tubuh sehingga kita tidak mudah terkena anemia. Kandungan mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, fosfor dan mangan bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang sehingga tidak mudah osteoporosis.  Sayuran bayam juga bermanfaat untuk mengatasi asma, menurunkan kolesterol, menghindari badan lesu dan untuk merawat kesehatan rambut dan kulit. Perbanyaklah memakan sayuran bayam karena tubuh kita membutuhkan banyak vitamin dan mineral.

Jumat, 11 November 2011

PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (Lanjutan....)

BAB V

Penutup

5.1. Kesimpulan 
  • Berdasarkan data gabungan untuk restoran Sushi-Ya Tebet yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dengan bauran produk pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran produk dari restoran Sushi-Ya Tebet.
  • Berdasarkan data gabungan untuk  restoran Sushi-Ya Tebet yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dengan bauran harga pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran harga dari restoran Sushi-Ya Tebet.
  • Berdasarkan data gabungan untuk restoran Sushi-Ya Tebet yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan bauran pelayanan pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan usia, pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pelayanan dari restoran Sushi-Ya Tebet.
  • Berdasarkan data gabungan untuk restoran Sushi-Ya Tebet  yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan atribut tempat (lokasi) pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan, status pernikahan ada hubungannya dengan bauran tempat (lokasi) dari restoran Sushi-Ya Tebet.




PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (Lanjutan...)

BAB IV

Pembahasan


4.1. Hasil Penelitian dan Analisis
  • Setelah data sekunder dianalisis diperoleh hasil berikut :
1. Usia


Konsumen restoran Sushi-Ya lebih banyak berusia 24 tahun keatas sehingga pemilik restoran Sushi-Ya dapat mempertimbangkan faktor usia 24 tahun keatas sebagai informasi dalam mengembangkan bauran pemasaran.

2. Jenis Kelamin

Konsumen restoran Sushi-Ya lebih banyak dikunjungi oleh laki-laki. Maka hal ini dapat memberikan pertimbangan kepada pemilik restoran Sushi-Ya dalam mengeluarkan strategi pemasaran produk, baik dalam segi kemasan, promosi, tempat yang disesuaikan dengan konsumen laki-laki.

3. Tingkat Pendidikan

Dikarenakan konsumen restoran Sushi-Ya lebih dominan pada tingkat pendidikan S1 maka hal ini dapat memberi masukan kepada pemilik restoran Sushi-Ya agar bauran pemasarannya lebih berbobot.

4. Pekerjaan
Konsumen restoran Sushi-Ya sebagian besar berprofesi sebagai karyawan maka pemilik restoran Sushi-Ya harus dapat meningkatkan bauran pelayanannya agar sesuai dengan kebutuhan karyawan yang cepat dan praktis.

5. Jumlah Pengeluaran Perbulan

Konsumen Sushi-Ya mempunyai jumlah pengeluaran perbulan yaitu Rp.2-4 juta perbulan. Hal ini dapat menjadi masukan untuk pemilik restoran Sushi-Ya agar dapat menyesuaikan bauran harga dengan pengeluaran perbulan konsumen.

6. Frekuensi Makan Diluar Rumah
Frekuensi makan diluar rumah konsumen berimbang antara seminggu sekali dan sebulan sekali. Maka pemilik restoran Sushi-Ya harus menciptakan inovasi dalam bauran pemasaran agar konsumen tidak jenuh terhadap restoran Sushi-Ya.

7. Status Pernikahan

Sebagian besar konsumen sudah menikah atau berkeluarga sehingga pemilik restoran Sushi-Ya harus menciptakan gagasan bauran produk yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

  • Tes Chi-Square dengan Bauran Pemasaran 
1. Demografi dengan Produk

Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, tidak ada hubungannya dengan atribut produk sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran produk pada Restoran Sushi-Ya Tebet.

2. Demografi dengan Harga



Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, tidak ada hubungan dengan atribut harga. Sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah, dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran dalam harga pada Restoran Sushi-Ya Tebet.

3. Demografi dengan Pelayanan
Jenis kelamin, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan atribut pelayanan. Sedangkan usia, pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan, dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran dalam pelayanan dari Restoran Sushi-Ya Tebet.

4. Demografi dengan Promosi
Jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah, status pernikahan dengan atribut promosi. Sedangkan usia dan pekerjaan ada hubungannya dengan bauran pemasaran promosi dari Restoran Sushi-Ya Tebet.

5. Demografi dengan Tempat (Lokasi)
Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan atribut tempat (lokasi). Sedangkan pekerjaan,jumlah pengeluaran perbulan, status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran tempat (lokasi) dari Restoran Sushi-Ya Tebet.


Behavior Marketing Journal

The Role of Personal Values in Marketing and Consumer Behavior

Donald E. Vinson,  Jerome E. Scott and Lawrence M. Lamon


            Dalam jurnal ini pemasar telah mengakui pentingnya sikap dan perubahan sikap dalam studi pemasaran dan perilaku konsumen, tetapi peran nilai-nilai telah mendapat perhatian yang relatif sedikit. Meskipun literatur pemasaran mencerminkan minat yang muncul dalam topik ininamun nilai-nilai pribadi belum banyak digunakan untuk menyelidiki dimensi yang mendasari perilaku konsumen. Hal ini mengherankan mengingat pentingnya nilai-nilai biasanya ditugaskan oleh berbagai pengamat sosial dan pengusaha. Ia telah mengemukakan bahwa nilai-nilai yang terpusat diselenggarakan elemen kognitif yang merangsang motivasi untuk respon perilaku. Mereka ada dalam struktur, saling hirarkis dimana nilai-nilai global yang terkait dan terhubung ke konsumsi umum terkait nilai-nilai yang pada gilirannya, juga berkaitan dengan atribut produk. Telah diterima secara umum dalam penelitian perilaku konsumen bahwa atribut produk merupakan elemen dasar memesan sikap individu terhadap produk dan layanan. Oleh karena itu, dalam pandangannya, atribut individu yang pada akhirnya didasarkan pada nilai-nilai, dan nilai-nilai perubahan bisa memiliki dampak  pada sikap dan pada perilaku juga. Dalam rangka untuk menguji proposisi bahwa nilai-nilai budaya dan sosial, sebuah penelitian yang dilakukan dengan subyek dari dua daerah yang berbeda budaya Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang berbeda secara signifikan sehubungan dengan orientasi dasar mereka nilai danbahwa masing-masing dari tiga konstruk yang mewakili sistem nilai-sikap yang secara logis terstruktur. Artinya nilai-nilai global, nilai konsumsi terkait dan evaluasi atribut produk yang konsisten dengan preferensi untuk produk konsumen atau jasa serta untuk kepentingan yang dirasakan dari isu-isu sosial yang dipilih. Meskipun tampaknya bahwa nilai-nilai pribadi memiliki implikasi penting bagi para praktisi pemasaran dan peneliti, nilai-nilai dan cara-cara di mana mereka mempengaruhi perilaku konsumen yang melihat dan memilih merek, kelas produk, dan atribut produk tidak jelas. Dalam rangka untuk menyelidiki hubungan ini, perlu diidentifikasi nilai-nilai apa, dan untuk menunjukkan metode empiris yang tersedia untuk memeriksa hubungan antara nilai-nilai pribadi dan perilaku konsumen. Tujuan jurnal ini adalah untuk mengatasi masalah ini. Pembahasan dalam jurnal ini adalah tentang makna nilai-nilai dan hubungan mereka dengan perilaku, presentasi dari paradigma nilai operasional yang cocok untuk mempelajari perilaku konsumen, hasil penelitian tentang dampak orientasi nilai tentang pentingnya atribut produk, daya tarik berbagai produk konsumen, sejumlah isu-isu sosial dan implikasi dari analisis nilai praktek pemasaran.



Minggu, 23 Oktober 2011

PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (Lanjutan....)

BAB III

Metodologi Penelitian


3.1. Objek Penelitian
Objek yang dilakukan pada Restoran Sushi-Ya yang berada di Tebet Indraya Square (TIS) di Jalan MT. Haryono Kav. 8 – 9 no. 9, Tebet, Jakarta Selatan.

3.2. Data / Variabel yang digunakan
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan variabel yang terdapat dalam penelitian ini, sebagai berikut:
(X1) Produk
(X2) Pelayanan
(X3) Tempat
(X4) Harga

3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ini dilakukan di dalam Restoran Sushi-Ya dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada konsumen Restoran Sushi-Ya yang terletak di TIS di jalan MT. Haryono Kav. 8-9 no. 9, Tebet, Jakarta Selatan.

3.4. Hipotesis
Hipotesis yang akan dibuktikan yaitu:
Ho : Tidak ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya
Ha : Ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya

3.5. Alat Analisis yang digunakan
Pada penelitian ini, alat analisis yang digunakan sebagai berikut:

1 Skala Likert
Skala Likert adalah teknik pengukuran sikap yang sering digunakan dalam riset pemasaran. Skala Likert disebut Summented Rating Scale. Skala Likert  memungkinkan responden untuk mengekspresikan intensitas perasaan mereka secara lebih luas. Rumus Skala Likert yang digunakan untuk dapat mengintrepretasikan hasil jawaban responden, yaitu:

RS =       m-n
                ---------
                    B

Keterangan :
m = Angka tertinggi dalam pengukuran
n  = Angka terendah dalam pengukuran
b  = Banyaknya kelas yang dibentuk


2. Sampel
Metode pengambilan sampel adalah penarikan sampel secara probabilitas (Probability Sampling). Metode ini digunakan karena banyaknya populasi dari orang yang membeli produk dari restoran cepat saji juga di karenakan oleh keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Berikut adalah perhitungan jumlah ukuran sampel:

Dengan tingkat kepercayaan 95%, dan estimasi kesalahan (e) sebesar 20%, maka diperoleh ukuran sampel minimal yaitu:
Untuk menghindari adanya kuesioner tidak sah, maka kuesioner disebarkan kepada 130 koresponden. Kuesioner tersebut disebar didalam Restoran Sushi-Ya Tebet dengan metode penyebaran kuesioner 1 orang setiap setengah jam sehingga mendapat 20 orang pada setiap restoran cepat saji. Penyebaran kuesioner dilakukan pada hari jumat, sabtu dan minggu.



3.   Chi Square

Chi Square adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi atau nilai yang terdapat dari hasil percobaan (Fo) dengan frekuensi harapan atau nilai yang didapat dari perhitungan secara teoritis (Fe). Nilai X² selalu positif. Bentuk distribusi X² tergantung dari derajat bebas (db) atau Degree Of Freedom.


Rumus Chi Square :

X² = Σ (Fo-Fe) ²
         ---------------
               Fe

Dimana :
X² = Chi Square
Fo = Frekuensi Observasi
Fe = Frekuensi Harapan
Dengan menggunakan tingkat signifikasi α = 5 % (0,05)