Jumat, 11 November 2011

PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (Lanjutan....)

BAB V

Penutup

5.1. Kesimpulan 
  • Berdasarkan data gabungan untuk restoran Sushi-Ya Tebet yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dengan bauran produk pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran produk dari restoran Sushi-Ya Tebet.
  • Berdasarkan data gabungan untuk  restoran Sushi-Ya Tebet yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dengan bauran harga pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran harga dari restoran Sushi-Ya Tebet.
  • Berdasarkan data gabungan untuk restoran Sushi-Ya Tebet yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan bauran pelayanan pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan usia, pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pelayanan dari restoran Sushi-Ya Tebet.
  • Berdasarkan data gabungan untuk restoran Sushi-Ya Tebet  yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan atribut tempat (lokasi) pada restoran Sushi-Ya Tebet. Sedangkan pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan, status pernikahan ada hubungannya dengan bauran tempat (lokasi) dari restoran Sushi-Ya Tebet.




PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (Lanjutan...)

BAB IV

Pembahasan


4.1. Hasil Penelitian dan Analisis
  • Setelah data sekunder dianalisis diperoleh hasil berikut :
1. Usia


Konsumen restoran Sushi-Ya lebih banyak berusia 24 tahun keatas sehingga pemilik restoran Sushi-Ya dapat mempertimbangkan faktor usia 24 tahun keatas sebagai informasi dalam mengembangkan bauran pemasaran.

2. Jenis Kelamin

Konsumen restoran Sushi-Ya lebih banyak dikunjungi oleh laki-laki. Maka hal ini dapat memberikan pertimbangan kepada pemilik restoran Sushi-Ya dalam mengeluarkan strategi pemasaran produk, baik dalam segi kemasan, promosi, tempat yang disesuaikan dengan konsumen laki-laki.

3. Tingkat Pendidikan

Dikarenakan konsumen restoran Sushi-Ya lebih dominan pada tingkat pendidikan S1 maka hal ini dapat memberi masukan kepada pemilik restoran Sushi-Ya agar bauran pemasarannya lebih berbobot.

4. Pekerjaan
Konsumen restoran Sushi-Ya sebagian besar berprofesi sebagai karyawan maka pemilik restoran Sushi-Ya harus dapat meningkatkan bauran pelayanannya agar sesuai dengan kebutuhan karyawan yang cepat dan praktis.

5. Jumlah Pengeluaran Perbulan

Konsumen Sushi-Ya mempunyai jumlah pengeluaran perbulan yaitu Rp.2-4 juta perbulan. Hal ini dapat menjadi masukan untuk pemilik restoran Sushi-Ya agar dapat menyesuaikan bauran harga dengan pengeluaran perbulan konsumen.

6. Frekuensi Makan Diluar Rumah
Frekuensi makan diluar rumah konsumen berimbang antara seminggu sekali dan sebulan sekali. Maka pemilik restoran Sushi-Ya harus menciptakan inovasi dalam bauran pemasaran agar konsumen tidak jenuh terhadap restoran Sushi-Ya.

7. Status Pernikahan

Sebagian besar konsumen sudah menikah atau berkeluarga sehingga pemilik restoran Sushi-Ya harus menciptakan gagasan bauran produk yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

  • Tes Chi-Square dengan Bauran Pemasaran 
1. Demografi dengan Produk

Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, tidak ada hubungannya dengan atribut produk sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran produk pada Restoran Sushi-Ya Tebet.

2. Demografi dengan Harga



Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, tidak ada hubungan dengan atribut harga. Sedangkan jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah, dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran dalam harga pada Restoran Sushi-Ya Tebet.

3. Demografi dengan Pelayanan
Jenis kelamin, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan atribut pelayanan. Sedangkan usia, pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan, dan status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran dalam pelayanan dari Restoran Sushi-Ya Tebet.

4. Demografi dengan Promosi
Jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah, status pernikahan dengan atribut promosi. Sedangkan usia dan pekerjaan ada hubungannya dengan bauran pemasaran promosi dari Restoran Sushi-Ya Tebet.

5. Demografi dengan Tempat (Lokasi)
Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, frekuensi makan diluar rumah dengan atribut tempat (lokasi). Sedangkan pekerjaan,jumlah pengeluaran perbulan, status pernikahan ada hubungannya dengan bauran pemasaran tempat (lokasi) dari Restoran Sushi-Ya Tebet.


Behavior Marketing Journal

The Role of Personal Values in Marketing and Consumer Behavior

Donald E. Vinson,  Jerome E. Scott and Lawrence M. Lamon


            Dalam jurnal ini pemasar telah mengakui pentingnya sikap dan perubahan sikap dalam studi pemasaran dan perilaku konsumen, tetapi peran nilai-nilai telah mendapat perhatian yang relatif sedikit. Meskipun literatur pemasaran mencerminkan minat yang muncul dalam topik ininamun nilai-nilai pribadi belum banyak digunakan untuk menyelidiki dimensi yang mendasari perilaku konsumen. Hal ini mengherankan mengingat pentingnya nilai-nilai biasanya ditugaskan oleh berbagai pengamat sosial dan pengusaha. Ia telah mengemukakan bahwa nilai-nilai yang terpusat diselenggarakan elemen kognitif yang merangsang motivasi untuk respon perilaku. Mereka ada dalam struktur, saling hirarkis dimana nilai-nilai global yang terkait dan terhubung ke konsumsi umum terkait nilai-nilai yang pada gilirannya, juga berkaitan dengan atribut produk. Telah diterima secara umum dalam penelitian perilaku konsumen bahwa atribut produk merupakan elemen dasar memesan sikap individu terhadap produk dan layanan. Oleh karena itu, dalam pandangannya, atribut individu yang pada akhirnya didasarkan pada nilai-nilai, dan nilai-nilai perubahan bisa memiliki dampak  pada sikap dan pada perilaku juga. Dalam rangka untuk menguji proposisi bahwa nilai-nilai budaya dan sosial, sebuah penelitian yang dilakukan dengan subyek dari dua daerah yang berbeda budaya Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang berbeda secara signifikan sehubungan dengan orientasi dasar mereka nilai danbahwa masing-masing dari tiga konstruk yang mewakili sistem nilai-sikap yang secara logis terstruktur. Artinya nilai-nilai global, nilai konsumsi terkait dan evaluasi atribut produk yang konsisten dengan preferensi untuk produk konsumen atau jasa serta untuk kepentingan yang dirasakan dari isu-isu sosial yang dipilih. Meskipun tampaknya bahwa nilai-nilai pribadi memiliki implikasi penting bagi para praktisi pemasaran dan peneliti, nilai-nilai dan cara-cara di mana mereka mempengaruhi perilaku konsumen yang melihat dan memilih merek, kelas produk, dan atribut produk tidak jelas. Dalam rangka untuk menyelidiki hubungan ini, perlu diidentifikasi nilai-nilai apa, dan untuk menunjukkan metode empiris yang tersedia untuk memeriksa hubungan antara nilai-nilai pribadi dan perilaku konsumen. Tujuan jurnal ini adalah untuk mengatasi masalah ini. Pembahasan dalam jurnal ini adalah tentang makna nilai-nilai dan hubungan mereka dengan perilaku, presentasi dari paradigma nilai operasional yang cocok untuk mempelajari perilaku konsumen, hasil penelitian tentang dampak orientasi nilai tentang pentingnya atribut produk, daya tarik berbagai produk konsumen, sejumlah isu-isu sosial dan implikasi dari analisis nilai praktek pemasaran.



Minggu, 23 Oktober 2011

PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (Lanjutan....)

BAB III

Metodologi Penelitian


3.1. Objek Penelitian
Objek yang dilakukan pada Restoran Sushi-Ya yang berada di Tebet Indraya Square (TIS) di Jalan MT. Haryono Kav. 8 – 9 no. 9, Tebet, Jakarta Selatan.

3.2. Data / Variabel yang digunakan
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan variabel yang terdapat dalam penelitian ini, sebagai berikut:
(X1) Produk
(X2) Pelayanan
(X3) Tempat
(X4) Harga

3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ini dilakukan di dalam Restoran Sushi-Ya dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada konsumen Restoran Sushi-Ya yang terletak di TIS di jalan MT. Haryono Kav. 8-9 no. 9, Tebet, Jakarta Selatan.

3.4. Hipotesis
Hipotesis yang akan dibuktikan yaitu:
Ho : Tidak ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya
Ha : Ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya

3.5. Alat Analisis yang digunakan
Pada penelitian ini, alat analisis yang digunakan sebagai berikut:

1 Skala Likert
Skala Likert adalah teknik pengukuran sikap yang sering digunakan dalam riset pemasaran. Skala Likert disebut Summented Rating Scale. Skala Likert  memungkinkan responden untuk mengekspresikan intensitas perasaan mereka secara lebih luas. Rumus Skala Likert yang digunakan untuk dapat mengintrepretasikan hasil jawaban responden, yaitu:

RS =       m-n
                ---------
                    B

Keterangan :
m = Angka tertinggi dalam pengukuran
n  = Angka terendah dalam pengukuran
b  = Banyaknya kelas yang dibentuk


2. Sampel
Metode pengambilan sampel adalah penarikan sampel secara probabilitas (Probability Sampling). Metode ini digunakan karena banyaknya populasi dari orang yang membeli produk dari restoran cepat saji juga di karenakan oleh keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Berikut adalah perhitungan jumlah ukuran sampel:

Dengan tingkat kepercayaan 95%, dan estimasi kesalahan (e) sebesar 20%, maka diperoleh ukuran sampel minimal yaitu:
Untuk menghindari adanya kuesioner tidak sah, maka kuesioner disebarkan kepada 130 koresponden. Kuesioner tersebut disebar didalam Restoran Sushi-Ya Tebet dengan metode penyebaran kuesioner 1 orang setiap setengah jam sehingga mendapat 20 orang pada setiap restoran cepat saji. Penyebaran kuesioner dilakukan pada hari jumat, sabtu dan minggu.



3.   Chi Square

Chi Square adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi atau nilai yang terdapat dari hasil percobaan (Fo) dengan frekuensi harapan atau nilai yang didapat dari perhitungan secara teoritis (Fe). Nilai X² selalu positif. Bentuk distribusi X² tergantung dari derajat bebas (db) atau Degree Of Freedom.


Rumus Chi Square :

X² = Î£ (Fo-Fe) ²
         ---------------
               Fe

Dimana :
X² = Chi Square
Fo = Frekuensi Observasi
Fe = Frekuensi Harapan
Dengan menggunakan tingkat signifikasi α = 5 % (0,05)


Minggu, 16 Oktober 2011

PENGARUH PEMASARAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA RESTORAN SUSHI-YA (lanjutan..)

BAB II


Landasan Teori

2.1. Teori

Bauran pemasaran adalah kumpulan dari variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan yang digunakan oleh suatu badan usaha untuk mencapai tujuan pemasaran dalam pasar sasaran.
Menurut Kotler (1997:92), bahwa bauran pemasaran adalah sejumlah alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk menyakinkan obyek pemasaran atau target pasar yang dituju.
Menurut Stanton (1978) Bauran pemasaran (marketing mix) adalah kombinasi dari 4 variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi.
Ada banyak alat pemasaran, McCarthy mempopulerkan pembagian kiat pemasaran ke dalam 4 (empat) faktor yang disebut the four Ps: product, price, place, and promotion (cited in Kotler, 1992:92).

Keempat bauran pemasaran tersebut secara singkat dijelaskan sebagai berikut:
1. Product (produk) adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Produk dapat terdiri dari product variety, quality, design, feature, brand name, packaging, sizes, services, warranties, and returns.
2. Price (harga), yaitu sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk. Harga meliputi last price, discount, allowance, payment period, credit terms, and retail price.
3. Place (tempat), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran. Tempat meliputi antara lain channels, coverage, assortments, locations, inventory, and transport.
4. Promotion (promosi), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain sales promotion, advertising, sales force, public relation, and direct marketing.
variabel promosi atau yang lazim disebut bauran komunikasi pemasaran (Koter, 1997:604):
a. Advertising, yaitu semua bentuk presentasi nonpersonal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang ditunjuk dengan mendapat bayaran.
b. Sales promotion, yaitu insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau pembelian produk dan jasa.
c. Public relations and publicity, yaitu berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau produk individual yang dihasilkan.
d. Personal selling, yaitu interaksi langsung antara satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan.
e. Direct marketing, yaitu melakukan komunikasi pemasaran secara langsung untuk mendapatkan respon dari pelanggan dan calon tertentu, yang dapat dilakukan dengan menggunakan surat, telepon, dan alat penghubung nonpersonal lain.


2.2. Hipotesa

Faktor-faktor pengaruh bauran pemasaran terhadap kepuasan konsumen pada Restoran Sushi-Ya Tebet.
Penelitian ini diadakan di Restoran Sushi-Ya Tebet. Adapun hipotesa nya sebagai berikut :
Ho :Tidak ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya
Ha : Ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya


2.3. Pengembangan Hipotesa

Bagaimana faktor-faktor price (harga), Product (produk), place (tempat), promotion (promosi) membuat konsumen Restoran Sushi-Ya Tebet merasa puas terhadap restoran tersebut dibandingkan dengan Restoran Sushi yang lain.


2.4. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Chandra Adhitya Manopo, Edi Abdurachman (2009) skripsi : "Analisis Atribut Pemasaran Pada Beberapa Restoran Cepat Saji Di Jakarta". Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasikan dan menganalisis hubungan antara demografi (Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah pengeluaran perbulan, frekuensi makan diluar rumah, status pemikahan) dengan atribut pemasaran (produk, harga, pelayanan, promosi, tempat) dari restoran cepat saji.


2.5. Alat Uji Analisis


  • Sampel
Metode pengambilan sampel adalah penarikan sampel secara probabilitas (Probability Sampling). Metode ini digunakan karena banyaknya populasi dari orang yang membeli produk dari restoran cepat saji juga di karenakan oleh keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Berikut adalah perhitungan jumlah ukuran sampel:

Dengan tingkat kepercayaan 95%, dan estimasi kesalahan (e) sebesar 20%, maka diperoleh ukuran sampel minimal yaitu:

Untuk menghindari adanya kuesioner tidak sah, maka kuesioner disebarkan kepada 130 koresponden. Kuesioner tersebut disebar didalam Restoran Sushi-Ya Tebet dengan metode penyebaran kuesioner 1 orang setiap setengah jam sehingga mendapat 20 orang pada setiap restoran cepat saji. Penyebaran kuesioner dilakukan pada hari jumat, sabtu dan minggu.
  • Chi Square
H0= Tidak ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya
H1= Ada hubungan antara demografi dengan bauran pemasaran di Restoran Sushi-Ya
  • Metode Likert's Summated Rating (LSR)
Likert's Summarted Rating adalah metode pengukuran sikap (attitude) yang banyak digunakan dalam penelitian sosial karena kesederhanaannya. LSR sangat bermanfaat untuk membandingkan sikap seseorang dengan distribusi skala dengan sekelompok orang lainnya, serta untuk melihat perkembangan atau perubahan sikap sebelum dan sesudah eksperimen atau kegiatan. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi subvariabel, kemudian subvariabel menjadi komponen-komponen yang dapat terukur ini kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan yang kemudian dijawab oleh responden. Jawaban setiap instrumen yang menunjukkan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
1. Sangat Setuju
2. Setuju
3. Cukup Setuju
4. Tidak Setuju
5. Sangat Tidak Setuju

Untuk keperluan analisis secara kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor misalnya:
1. Sangat Setuju diberi skor = 5
2. Setuju diberi skor = 4
3. Cukup Setuju diberi skor = 3
4. Tidak Setuju diberi skor = 2
5. Sangat Tidak Setuju diberi skor = 1
Instrumen penelitian yang diberi Skala Likert dapat dibuat dalam bentuk check list ataupun pilihan ganda.


Selasa, 11 Oktober 2011

PERILAKU KONSUMEN

PENDAHULUAN


           Konsumen adalah seseorang atau sekelompok orang yang membeli suatu produk untuk dipakai sendiri dan tidak untuk dijual kembali. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu sebagai produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.
           Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi, dan membuang barang atau jasa (Blackwell, Miniard, & Engel, 2001). Sedangkan The American Marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek hidupnya. Dalam kata lain perilaku konsumen mengikutkan pikiran dan perasaanyang dialami manusia dan aksi yang dilakukan saat proses konsumsi (Peter & Olson, 2005). Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi (Hanna & Wozniak, 2001).



ISI



          Sangat penting bagi kita yang mempunyai usaha, dalam skala seberapa pun, untuk mengetahui perilaku konsumen. Apalagi yang usahanya bergantung pada seberapa besar konsumen kita. Perilaku konsumen menjadi sebuah hal yang patut dikaji karena usaha-usaha yang tergantung pada keputusan konsumen untuk memutuskan menggunakan atau bekerja sama dengan sebuah badan usaha tentunya sangat berpengaruh dengan laba yang akan didapatkan.


Definisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh para pakar :

1. Menurut Engel (1995), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini.

2. Menurut Loudon dan Bitta (1988) lebih menekankan perilaku konsumen sebagai suatu proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan jasa.

3. Menurut Kotler dan Amstrong (2006), mengartikan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumsi personal.

4. Menurut Hawkins, Best & Coney, perilaku konsumen adalah studi mengenai individu, kelompok atau organisasi dan proses-proses yang dilakukan dalam memilih, menentukan, mendapatkan, menggunakan, dan menghentikan pemakaian produk, jasa, pengalaman, atau ide untuk memuaskan kebutuhan serta dampak proses-proses tersebut terhadap konsumen dan masyarakat.


  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN
Faktor-faktor internal :Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor internal adalah motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar. Belajar menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang individu yang bersumber dari pengalaman. Seringkali perilaku manusia diperoleh dari mempelajari sesuatu.
1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.

3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.

4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.

5. Pembelajaran (learning) merupakan proses belajar yang dilakukan seseorang setelah membeli produk tersebut dengan melihat apakah produk tersebut memiliki kegunaan dan akan dijadikan sebagai alternatif dalam pembelian selanjutnya.

Faktor Eksternal 
Faktor eksternal merupakan faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing strategy, dan kelompok referensi. Kelompok referensi merupakan kelompok yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada sikap dan prilaku konsumen. Kelompok referensi mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku. 

Faktor BudayaFaktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen.Perusahaan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.

Faktor Sosial

Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama.
Keluarga dapat pempengaruhi perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk, iklan dan situasi.
Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.

Faktor Pribadi

Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang ).Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis- jenis kepribadian dapat diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
Faktor Psikologis
Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta kepercayaan.
Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, rasa haus, rasa tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan lain bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari keadaan fisologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda dari objek yang sama karena adanya tiga proses persepsi:
• Perhatian yang selektif
• Gangguan yang selektif
• Mengingat kembali yang selektif
Pembelajaran menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Sedang kepercayaan merupakan suatu pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

Faktor Marketing Strategy

Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah 
(1) Barang, 
(2) Harga, 
(3) Periklanan dan 
(4) Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. 
Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. 

Dalam Kutipannya (Fandy Tjiptono) menegaskan 3 (tiga) aspek utama dimensi perilaku konsumen, yaitu:
1. Tipe Pelanggan meliputi:
a. Konsumen akhir atau konsumen rumah tangga, yaitu konsumen yang melakukan pembelian untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, atau keperluan hadiah bagi teman
maupun saudara, tanpa bermaksud untuk menjual belikannya. Dengan kata lain, pembelian dilakukan semata-mata untuk keperluan konsumsi sendiri.
b. Konsumen Bisnis (disebut pula konsumen organisasional, konsumen industrial, atau konsumen antara) adalah jenis konsumen yang melakukan pembelian untuk keperluan pemrosesan lebih lanjut, kemudian dijual (produsen); disewakan kepada pihak lain; dijual kepada pihak lain (pedagang); digunakan untuk keperluan sosial dan kepentingan publik (pasar pemerintah dan organisasi). Dengan demikian, tipe konsumen ini meliputi organisasi bisnis maupun organisasi nirlaba (seperti rumah sakit, sekolah, instansi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan sebagainya).

2. Peranan konsumen terdiri atas hal-hal sebagai berikut:
a. User adalah orang yang benar-benar (secara aktual) mengonsumsi atau menggunakan produk atau mendapatkan manfaat dari produk atau jasa yang dibeli.
b. Payer adalah orang yang mendanai atau membiayai pembelian.
c. Buyer adalah orang yang berpartisipasi dalam pengadaan produk dari pasar.
Masing-masing peranan di atas bisa dilakukan oleh satu orang, bisa pula oleh individu yang berbeda. Jadi seseorang bisa menjadi user sekaligus payer dan buyer. Selain itu,
bisa juga individu A menjadi payer,B menjadi user, dan C menjadi buyer. Itu semua tergantung kepada konteks atau situasi pembelian.

3. Perilaku pelanggan, terdiri atas:
a. Aktivitas mental, seperti menilai kesesuaian merek produk, menilai kualitas produk berdasarkan informasi yang diperoleh dari iklan, dan mengevaluasi pengalaman aktual
dari konsumsi produk/jasa.
b. Aktivitas fisik, meliputi mengunjungi toko, membaca panduan konsumen atau katalog, berinteraksi dengan wiraniaga, dan memesan produk.
Pemahanaman akan aktivitas mental dan fisik pelanggan ini mengarah pada pengidentifikasian pihak mana saja yang terlibat dalam proses tersebut, siapa saja yang memainkan masing-masing peran yang ada (user, payer, dan buyer), mengapa proses-proses tertentu bisa terjadi, karakteristik konsumen seperti apa yang menentukan perilaku mereka, dan faktor lingkungan apa yang mempengaruhi proses perilaku pelanggan.



KESIMPULAN


1. Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

2. Faktor yang mempengaruhi konsumen yaitu faktor eksternal, internal, sosial, budaya, pribadi, psikologi, marketing strategy.